Kisah Perjuangan Hanny Felle, Pahlawan Literasi Anak Papua yang Sukses Bangun 26 Rumah Baca di Jayapura : Okezone Lifestyle

MESKI sudah 78 tahun sudah Indonesia telah merdeka. Tak bisa dipungkiri, nyatanya di pelosok sana, masih ada yang ternyata terus berjuang untuk meningkatkan literasi anak bangsa.

Dialah Hanny Felle, perempuan dari kampung Yobeh, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Tidak harus hebat untuk memulai, tapi harus memulai untuk menjadi hebat. Sepertinya, pepatah itu cocok untuk menggambarkan prinsip seorang Hanny Felle.

Meski hanya lulusan SMA dan berstatus ibu rumah tangga, Hanny yang lulusan SMA Yayasan Pendidikan Fransiskus Asisi di Sentani tersebut punya niat mulia untuk bisa membuat anak-anak di Papua agar bisa memiliki minat literasi dan keterampilan yang semakin tinggi.

Perjuangannya ia mulai 11 tahun lalu, tepatnya pada 2012. Hanny berinisiatif menjadikan rumahnya sebagai tempat singgah anak-anak untuk mengisi kegiatan anak-anak di lingkungan sekitar usai pulang sekolah.

Hanny yang saat itu hobi mengoleksi berbagai jenis buku, lantas mengajak anak-anak untuk membaca koleksi buku-bukunya. Meskipun tidak memiliki latar belakang profesi sebagai seorang guru, instingnya untuk mengajar anak-anak tersebut mulai tumbuh.

Terlebih, sejak kecil ia juga terinspirasi dari sosok mendiang sang ayah, Aser Felle, salah seorang petugas gereja di GKI Betel, kampung Yobeh yang kerap mengajar anak-anak dalam kegiatan sekolah setiap pekan.

 

 (Foto: Dok pribadi Hanny Felle)

Sejak saat itu, Hanny lantas terinpirasi untuk membuat kelompok belajar. Meski bermodalkan cukup terbatas, Hanny tak menyerah, ia mulai berjuang lebih keras agar anak-anak di sekitar tempat tinggalnya bisa fasilitas yang lebih layak.

Setiap hari, ia rela memancing ikan hingga memeras sagu untuk ia jual ke Pasar Lama Sentani. Uang hasil jualan ikan dan sari sagu tersebut lantas ia jadikan modal untuk membeli perlengkapan membaca dan menulis anak-anak yang kerap datang ke rumahnya.

Tak hanya membaca dan menulis, Hanny juga mulai mengajarkan segala bentuk keterampilan hingga kepedulian akan alam sekitar kepada anak-anak tersebut selama bertahun-tahun.

Cikal bakal Rumah Baca

Langkah demi langkah inilah yang akhirnya membuat Hanny mantap untuk mendirikan Rumah Baca Yoboi di tempat tinggalnya pada 2018. Ia bertambah semangat, karena melihat saat itu makin banyak anak-anak yang cukup antusias datang ke tempatnya untuk belajar. Bahkan, tak hanya dari wilayahnya saja, namun dari beberapa wilayah lain seperti Biak hingga Manokwari.

“Saya lihat di lingkungan saya ini beda, qalaupun anak-anak sekolah ya. Mereka sekolah, pulang sekolah, terus di situ saya lihat ada yang menulis, membaca, akhirnya saya inisiatif,” tutur Hanny, saat dihubungi MNC Portal, baru-baru ini.

“Daripada mereka pulang sekolah tidak ada aktivitas lain, ya saya hadirkan rumah baca literasi di tempat saya tinggal,” imbuhnya.

Memanfaatkan rumah seluas 8 meter x 6 meter itu, Hanny lantas berhasil membuka rumah baca yang jadai wadah baru bagi para anak-anak di Sentani dan daerah lain di Papua untuk meningkatkan minat baca.

Bahkan, bak gayung bersambut, ia kemudian mendapatkan bantuan dari salah satu lembaga swasta berupa berbagai macam koleksi buku hingga perlengkapan pembelajaran

Namun, setahun pasca membangun Rumah Baca Yoboi, Hanny harus menghadapi cobaan pertamanya. Pasalnya, pada Maret 2019, Kabupaten Jayapura mengalami musibah banjir bandang.

Meski tidak terdampak langsung, Danau Sentani yang ada di dekat lokasi Rumah Baca Yoboi saat itu meluap, hingga merendam sebagian buku-buku yang ada di sana. Namun, usai musibah berlalu, Hanny tak patah semangat dan kembali membenahi rumah baca yang ia dirikan itu.

 

 (Foto: Dok pribadi Hanny Felle)

“Jadi itu buku-buku hampir semuanya terendam. Tapi saya tidak menyerah, beberapa masih bisa saya selamatkan dan setelah bencana berlalu, saya kembali mendapat bantuan untuk kembali membenahi rumah baca dan menambah koleksi buku,” tutur Hanny lagi.

Perjuangan Hanny tak berhenti sampai disitu. Saat pandemi Covid-19 melanda di awal 2020 lalu, perempuan berusia 51 tahun ini juga mulai kesulitan untuk melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar yang kerap dilakukan di Rumah Baca Yoboi.

Meski sempat mencoba metode pembelajaran daring, hal itu ternyata menemukan beberapa hambatan. Salah satunya, karena akses internet yang sulit hingga anak-anak yang memang belum banyak memiliki perangkat gawai.

Hanny tak mau pasrah dengan keadaan, Hanny akhirnya tetap berinisiatif melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan pembatasan selama Covid-19 berlangsung. Mengingat, saat itu kasus Covid-19 di sana masih tercatat nihil.

Tantangan belum berhenti sampai situ, Hanny juga sempat menghadapi salah satu tantangan terberat yang masih kerap ia rasakan hingga saat ini. Salah satunya yakni pandangan sebelah mata terhadap dirinya.

 

(Foto: Dok pribadi Hanny Felle)

Ia mengaku, dengan segala niat baik dan ketulusannya untuk meningkatkan literasi anak-anak di Papua, ternyata hingga saat ini masih saja ada orang yang memandangnya sebelah mata.

“Jujur ya, saya ini pendidikan terakhir hanya SMA dan hanya seorang ibu rumah tangga. Banyak tantangan yang saya dapat itu, mereka bilang, kamu sekolah dari mana, kamu dapat gelar apa, titel apa, itu selalu keluar air mata saya. Air mata saya itu masuk ke kamar menangis. Itu tantangan paling berat,” curhat Hanny.

Namun, lewat niat ikhlasnya, dan kegigihan usahanya dalam meningkatkan literasi anak-anak Papua membawanya menjadi salah satu sosok perempuan Indonesia yang inspiratif.nBahkan, hingga kini ia tercatat telah berhasil membuka sekitar 26 rumah baca di Kabupaten Jayapura yang tersebar di total 10 distrik, sebuah dedikasi dan kerja keras yang sangat membanggakan dan patut diapresiasi tinggi.

Tak heran, berbagai penghargaan pun berhasil ia raih. Pada tahun 2020 yang lalu ia mendapatkan penghargaan dari Kapolda Papua berupa Kapolda Awards di bidang literasi.

Selain itu, Rumah Baca Onomi Niphi yang didirikannya merupakan salah satu rumah baca yang keluar sebagai juara umum rumah baca di Provinsi Papua. Rumah baca tersebut juga menjadi juara satu dalam lomba Perpustakaan Kampung tingkat Provinsi Papua.

Kini beberapa rumah baca yang didirikannya itu sudah menjadi ruang publik. Tercatat, sudah banyak orang yang datang berkunjung dan melakukan KKN dari mahasiswa, salah satunya dari mahasiswa Perpustakaan di Uncen. Rumah baca ini juga telah dikunjungi oleh beberapa pejabat dan para wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri.

Pada momen HUT RI yang ke-78 kali ini, Hanny juga turut memeriahkannya dengan beberapa kegiatan menarik. Mulai dari mengadakan berbagai macam perlombaan, menggambar dan menulis indah hingga melakukan kerja bakti bersama anak-anak didiknya.

Kegiatan ini sendiri memang rutin ia adakan setiap kali menyambut hari kemerdekaan Indonesia. Pada momen kemerdekaan Indonesia yang ke-78 tahun ini, Hanny juga berharap agar minat baca anak-anak di Indonesia semakin meningkat. Mengingat, anak-anak inilah yang jadi generari penerus bangsa.

Hanny juga berharap, agar ke depannya, pergerakan-pergerakan kecil seperti yang dilakukannya saat ini juga bisa dicontoh daerah lain. Hal ini demi melahirkan generasi alias bibit penerus yang suatu saat bisa berkontribusi dalam memajukan bangsa.

“Harapan saya Indonesia kita bilang sudah merdeka ke yang 78 tahun ya. Tetapi minat baca anak di Indonesia kalau kita dengar dan kalau kita telusuri kan sangat kurang. Itu jujur saya bilang,” tuturnya.

“Tetapi kalau kita mulai pergerakan-pergerakan literasi mulai dari desa atau kampung maka perubahan itu akan terjadi di negara Indonesia. Pergerakan tidak bisa dimulai dari kota. Tetapi dimulai dari desa terutama di akar rumput, maka perubahan itu akan terjadi ke depan,” tutup Hanny.

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *